Dr. Majid Rafizadeh: Mengapa saya meninggalkan Agama dan Nabi Saya ? - Jurnal Kristen

Breaking

Recent Posts

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 10 Desember 2016

Dr. Majid Rafizadeh: Mengapa saya meninggalkan Agama dan Nabi Saya ?



Dan tantangan saya kepada setiap Muslim.

Dr. Majid Rafizadeh

Tidak pernah terpikir saya akan memiliki keberanian untuk mengumumkan secara terbuka bahwa saya telah meninggalkan Islam. Saya telah lama merasa ragu untuk menyatakan secara terbuka tentang hal ini; menurut banyak pemimpin Muslim, saya sekarang seorang “kafir,” hal terburuk yang dapat saya lakukan menurut pandangan emreka. Saya lebih khawatir tentang efek dan resiko terhadap keluarga dan saudara. Tetapi, di hadapan ketakutan yang telah tersebar di seluruh dunia, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menuliskan cerita hidup saya dalam buku berjudul “The Muslim Renegade: A Memoir of Struggle, Defiance, Enlightenment, and Hope.”

Seorang Muslim percaya bahwa Quran berisi perkataan Allah secara verbatim (kata per kata) dan harus diimplementasikan tanpa syarat, tidak terbatas waktu dan lokasi geografis. Pahala Islamik untuk membunuh seorang kafir atau murtadin – seseorang yang meninggalkan Islam dan menolak Allah dan Muhammad – adalah mendapatkan tempat terbaik di surga, menurut beberapa pengajaran Islam. Hukuman karena meninggalkan Islam adalah eksekusi mati, diberlakukan secara legal dalam masyarakat Islam oleh pemerintah, pengadilan Islam atau kelompok-kelompok agama dan individu-individu Muslim yang memiliki hasrat untuk melaksanakan pekerjaan mereka sesuai dengan yang telah dinyatakan oleh Allah, Muhammad dan Quran. Hukum Islam dan Syariah ini telah menciptakan kekhawatiran, ketakutan dan kewaspadaan dalam diri saya untuk memberitahukan cerita saya.

Jika anda terlahir ke dalam, atau menjadi pengikut Islam, meninggalkannya bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Seorang Muslim telah diindoktrinasi sejak usia dini. Saya percaya indoktrinasi tersebut berevolusi dan bertransformasi menjadi ketakutan yang mengakar untuk mempertanyakan, apalagi menolak, Allah, Islam dan Muhammad. Memutuskan untuk menjadi bebas dan independen, melepaskan diri dari menjadi budak Islam, adalah suatu hal yang tidak terbayangkan dan tidak dapat dipertanyakan.  Sekali seseorang menjadi budak Islam, Islam membunuh keberanian dan keinginannya untuk meninggalkannya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, pemimpin Islam dan Muslim juga menghukum mereka yang meninggalkan Islam, Allah dan Muhammad dengan kematian.

Saya tumbuh dewasa dalam sebuah keluarga yang agamawi di dalam masyarakat Islamik sampai beberapa tahun yang lalau. Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang dengan sungguh-sungguh membaca seluruh Quran kata demi kata. Saya telah membacanya beberapa kali dan berusaha untuk mengikuti aturan-aturannya secara cermat, baris demi baris. Saya tidak memandang agama saya hanya sebagai sebuah titel; saya ingin hidup sebagai seorang Muslim yang taat. Untuk melakukan hal itu, saya harus menjadi seorang pengikut aturan Islam yang ketat. Saya adalah seorang Muslim “yang baik” menurut beberapa imam yang berbicara dengan saya.

Tetapi siapakah Muslim “yang baik” ini, menurut pengajaran Islam? Seorang Muslim yang baik mengikuti ayat-ayat Allah kata demi kata. Anda tidak dapat memilih aturan yang anda senangi atau yang anda ingin aplikasikan dalam situasi tertentu. Anda harus mengikut setiap aturan legal, sosial, dan spiritual. Tidak setiap orang dapat menjadi seorang Muslim yang baik; seorang Muslim yang baik merasakan di dalam sanubarinya suatu kepercayaan bahwa mereka telah “dipilih.” Hanya anda yang berada di jalur yang benar, dan orang lain dari agama lain, bahkan sesama Muslim, tidak berada di dalam jalur suci yang memimpin kepada keselamatan. Seorang Muslim yang baik juga harus menjadi pengikut imam atau ayatollah selain Allah, Muhammad dan Quran. Secara sosial dan legal, menurut perkataan Allah di dalam Quran, anda harus menerima “aturan-aturan Allah” bahwa seorang pria dapat menikahi lebih dari satu orang istri secara bersamaan tanpa perlu meminta persetujuan mereka (seperti yang dilakukan ayah saya), bahwa kesaksian seorang wanita tidak setara dengan pria di dalam pengadilan hokum, bahwa wanita menerima warisan kurang dari pria (setengah dari apa yang diterima oleh saudara-saudara prianya), bahwa anda dapat memiliki pernikahan sementara sebanyak-banyaknya yang anda inginkan, bahwa memiliki budak bukanlah masalah, bahwa anda tidak boleh menjadi seorang Muslim yang pasif, tetapi anda harus menjadi seorang jihadis yang bersedia memaksakan aturan-aturan Alah ke dalam masyarakat manapun dengan mengikuti tiga langkah berikut: memberitahu mereka yang tidak mengikuti Islam jalan yang benar, jika mereka tidak mendengarkan, peringati mereka, jika mereka masih menentang, hukumlah mereka (dengan kekerasan). Seorang Muslim yang baik percaya dalam hal-hal tahyul bahwa Quran memberikan detil tentang “mata iblis.” Seorang Muslim yang baik menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, menghindari menikmati kesenangan yang normal, dan memandang agama lain tidak lengkap karena Allah menyatakan di dalam Quran bahwa Islam adalah agama terakhir yang memperlengkapi semua kekurangan dari agama lain, dan seterusnya.

Ketika saya datang ke Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu – sebelum serangan teroris di Paris, Orlando, San Bernardino, London dan yang lainya – saya berusaha untuk meningkatkan kesadaran dan memperingatkan tentang serangan teroris yang tidak terelakkan yang akan terjadi di dalam nama Islam. Islam mampu menyediakan bahasa yang penuh kuasa dan peralatan untuk melakukan kejahatan terburuk terhadap kemanusiaan, sementara pada saat yang bersamaan pelaku kejahatan tersebut merasa diberkati, istimewa, dihargai dan pada sisi pemenang.

Kecuali kita mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang natur Islam, transformasi dan ketergantungannya pada ayat-ayat Quran, demikian juga dengan norma-norma, nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan ideologinya dalam dunia moderen, kita tidak akan mampu untuk menunjukkan ancaman ini. Islam hanya akan terus meningkat dalam intensitas dan menyebar lebih jauh dari yang dapat dibayangkan.

Saya tidak mengusulkan hal ini hanya berdasarkan pandangan akademik dan epistemologi terhadap wawasan budaya, tetapi pada pengalaman langsung selama saya bertumbuh, belajar, dan bekerja di dalam masyarakat yang didominasi Muslim selama hampir seluruh hidup saya. Saya dilahirkan di Republik Islam Iran dan tumbuh dewasa di dalam budaya-budaya Arab dan Persia.

Menurut pendapat saya mereka yang mencoba menobatkan orang ke dalam Islam pertama mulai dengan beberapa gagasan menarik dari Islam. Begitu anda mendaftarkan diri pada agama tersebut (dengan mengucapkan dua kalimat: Ash hadu an la ilaha ill Allah wa ash hadu anna Muhammadar Rasul Allah “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”), kemudian secara berangsur-angsur larangan-larangan, aturan-aturan yang diskriminatif terhadap wanita, dll akan mengikuti secara perlahan-lahan. Tanpa disadari oleh petobat baru tersebut, dia menjadi budak dari ideologi Islam dan juga sang imam. Kebebasan anda akan diambil, dan sebuah dunia yang baru, Tuhan (Allah) yang baru, dan seperangkat aturan-aturan baru akan diciptakan untuk anda. Begitu anda tunduk kepada Islam, tidak ada jalan kembali, karena jika anda meninggalkan ideologi ini, anda adalah seorang kafir, seorang murtadin yang layak untuk dibunuh, sesuai dengan kata-kata Allah di dalam Quran.

Di dalam buku saya saya membagikan pengalaman saya dalam bagian karena saya sungguh-sungguh percaya sebagaimana manusia menjadi semakin terkoneksi, tantangan yang paling mengerikan terhadap tatanan dunia saat ini – kepada nilai-nilai demokrasi Barat, hak asai manusia yang universal, aturan hukum, keadilan sosial, kesetaraan jenis kelamin, masyarakat yang beradab dan keseluruhan kemanusian – bukanlah bom nuklir, senjata kimia atau kemampuan militer lainnya, tetapi ideologi Islam moderen. Berapa lama lagi media dan politisi utama bermain “kebenaran secara politis” dalam isu ini? Tujuan saya adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi dalam sudut-sudut fundamental Islam yang terlindung dan diam. Bagi saya adalah imperatif bahwa bangsa Amerika diedukasi tentang ekstrimis Islamis yang memandang mereka dengan kebencian yang demikian intens.

Apakah ideologi Islam adalah ideologi damai sebagaimana diperdebatkan oleh banyak Muslim dan imam? Ada beberapa ayat dan ide di dalam Quran (kemungkinan diplagiat dari ide-ide ke-Kristenan dan Yudaisme) yang mempromosikan hal-hal positif.

Tetapi aturan-aturan yang kejam dan diskriminatif di dalam Quran menutupi jejak-jejak kedamaian.

Akankah anda mempertimbangkan sebuah ideologi atau seorang pemimpin penuh kedamaian jika pemimpin tersebut memberitahukan anda satu hal yang baik, tetapi, pada saat yang bersamaan, memberitahukan anda bahwa anda dapat membunuh dalam nama ideologi (sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Quran)? Apakah anda akan mengikuti seseorang yang memberitahukan anda satu hal baik, tetapi kemudian memberitahukan anda bahwa wanita tidak boleh dianggap setara dengan pria di dalam sistem hukum?

Ideologi Islam, pengajarannya yang kejam, aturan-aturan yang tidak masuk akal, menciptakan kontradiksi di dalam diri saya. Saya memulai pencarian jiwa, yang memimpin kepada tranformasi dan revolusi di dalam diri saya. Saya terlahir sebagai seorang budak ke dalam ideologi ini, dan akhirnya saya harus bebas dalam membuat pilihan hidup saya sendiri (ketika saya masih berada di Iran beberapa tahun yang lalu) untuk membebaskan diri saya dari ikatan ideologi ini. Melakukan hal ini, meninggalkan semua yang telah diajarkan selama lebih dari 2 dekade, bukanlah sebuah tugas yang mudah.

Jika anda terlahir ke dalam keluarga Muslim dan tinggal di dalam masyarakat Muslim, dimana syariah dan hukum-hukum Islam diberlakukan secara legal oleh sistem, hal ini menyayat hati dan berbahaya. Ketakutan akan kekejaman dan kematian meresap dalam hidup saya sejak saya dilahirkan – sampai saat ini. Tanpa memedulikan resiko, saya merasa saya harus berbicara kebenaran saya. Rantai dan ancaman-ancaman keji dari ideologi ini akan menghantui anda dimanapun anda berada. Mengetahui bahwa saya, keluarga saya dan teman-teman saya, akan menjadi target, mengetahui bahwa saya akan kehilangan semua yang saya kasihi (termasuk banyak keluarga dan teman saya), saya bisa saja mengalah kepada rasa takut saya. Namun, saya memutuskan untuk tidak mengalah. Ini adalah sebuah keputusan dimana saya tidak memiliki pilihan namun harus saya lakukan.


Mari bantu kami ambil bagian dengan menyebarkan seri kesaksian ini dengan Klik: Bagikan / Share. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Sumber: Sharingkalimatallah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here